Latihan Fisik Penderita Diabetes (Kencing Manis)

Latihan fisik penderita diabetes (kencing manis). Diabetes mellitus merupakan gangguan pengontrolan kadar gula darah yang menimbulkan tingginya kadar gula darah (hiperglikemia). Terdapat dua jenis diabetes mellitus yakni tipe I (tergantung insulin) yang sering terjadi sejak masa anak dan tipe II (tidak tergantung insulin) yang sering muncul pada usia tua.

Kadar insulin pada diabetes tipe I rendah sedangkan sensitivitas sel tubuh terhadap insulin pada diabetes tipe II rendah (Albright et al. 2000: 1345). Pada tipe I, diperlukan penambahan insulin yang dilakukan secara injeksi intramuscular sedangkan pada tipe II diperlukan kenaikan sensitivitas sel-sel tubuh dengan jalan menggunakan obat oral antihipoglikemik, program latihan fisik serta penurunan berat badan (Boule et al. 2001: 1218).

Penurunan kadar maupun sensitivitas insulin menimbulkan hiperglikemia mengingat insulin diperlukan untuk penyerapan glukosa dalam sel. Hiperglikemia yang terjadi secara kronis dapat mengakibatkan gangguan pembuluh darah mikro (microangiopati), gangguan persyarafan (neuropati), retinopati, penyakit kardiovaskular, gangguan ginjal, ulkus pada ekstremitas dan gangguan system saraf otonom (Beckman et al. 2002: 2570).

latihan fisik penderita diabetesEfek Latihan Fisik Penderita Diabetes (Kencing Manis)

Exercise testing pada penderita diabetes direkomendasikan karena terjadi peningkatan resiko penyakit kardiovaskular pada diabetes. Intensitas latihan fisik dalam exercise testing harus dimulai pada tingkat yang rendah. Ergometer lengan dapat dipergunakan untuk menilai adanya neuropati atau microangiopati perifer (Albright et al. 2000: 1345).

Hal yang perlu diperhatikan adalah kemungkinan adanya komplikasi neurapati otonom yang menurukan kemampuan penderita diabetes mencapai denyut nadi maksimal sehingga menurunkan sensitivitas program latihan yang didasarkan denyut nadi (Sigal et al. 2004: 2518).

Respons penderita diabetes terhadap latihan pada diabetes tipe I tergantung beberapa faktor termasuk adanya tambahan insulin eksogen. Jika diabetes terkontrol tanpa komplikasi ketosis, latihan akan menurunkan kadar gula darah sehingga kebutuhan terhadap insulin eksogen menurun.

Sebaliknya apabila kadar gula darah tidak terkontrol atau insulin tidak cukup tersedia sebelum latihan fisik dilakukan, maka transport glukosa ke sel otot akan terhambat. sehingga glukosa tidak tersedia sebagai sumber energi (Gardner et al. 2001: 755). Pada keadaan ini, asam lemak bebas akan dipergunakan oleh tubuh dan benda-benda keton akan diproduksi tubuh sehingga timbul ketosis yang mengakibatkan kenaikan keasaman tubuh.

Pada keadaan lanjut, tubuh akan bereaksi dengan memproduksi lebih banyak gula yang dimaksudkan untuk mencukupi kebutuhan sel otot terhadap glukosa sehingga semakin memperburuk keadaan hiperglikemi. Oleh karena hal-hal tersebut, latihan fisik pada penderita diabetes tipe I hanya boleh dilakukan apabila kadar gula darah penderita diabetes tersebut terkontrol dengan baik (Sigal et al. 2004: 2518).

Hipoglikemia Sebagai Efek Latihan Fisik

Hipoglikemia merupakan efek latihan fisik yang harus diperhatikan, mengingat olahraga memiliki efek meningkatkan sensitivitas sel-sel tubuh terhadap insulin. Hipoglikemia juga terjadi karena pada saat latihan fisik juga terjadi peningkatan absorbsi insulin. Peningkatan absorbsi insulin ini biasanya terjadi pada insulin kerja cepat (short-acting) dan bila injeksi insulin dilakukan pada otot yang aktif melakukan gerakan.

Hipoglikemia dapat terjadi pada saat latihan sampai dengan 4 sampai 6 jam setelah latihan fisik. Agar hal ini dapat dicegah, dosis insulin sebelum latihan harus dikurangi serta asupan karbohidrat sebelum latihan harus ditingkatkan. Hipoglikemia merupakan efek samping olahraga yang dapat bersifat fatal sehingga programmer latihan, penderita maupun keluarga penderita diberi penjelasan mengenai kemungkinan hipoglikemia, gejala-gejalanya dan cara pengatasannya.

Cara Minimalisir Hipoglikemia

Menurut Sigal et al. (2004: 2518) resiko hipoglikemia dapat diminimalkan dengan :

  1. Memonitor kadar gula darah secara rutin pada saat menjalankan program latihan fisik.
  2. Mengurangi dosis insulin (satu sampai dua unit tergantung petunjuk dokter) serta meningkatkan asupan karbohidrat (10-15 gram pada latihan 30 menit) sebelum latihan dimulai.
  3. Injeksi insulin dilakukan pada area yang pada saat latihan kurang aktif ( misalkan daerah perut)
  4. Hindari latihan fisik pada saat puncak kerja insulin.
  5. Pada latihan fisik dalam durasi waktu yang lama, asupan karbohidrat dilakukan sebelum dan selama latihan.
  6. Penderita diabetes tidak diperkenankan melakukan latihan fisik tanpa pengawasan.

Beberapa hal lain yang harus diperhatikan adalah

(1) pada saat latihan fisik harus mempergunakan alas kaki yang nyaman serta terus menerus dilakukan pengawasan kesehatan kaki,

(2) perhatian pada penderita diabetes yang mempergunakan obat beta bloker mungkin tidak dapat merasakan tanda-tanda hipoglikemia maupun angina dan

(3) penderita diabetes dengan gangguan neuropati otonom mungkin tidak dapat mengenali tanda-tanda dehidrasi sehingga diusahakan tidak melakukan latihan fisik pada keadaan lingkungan yang panas (Albright et al. 2000: 1345).

Program Latihan Fisik Penderita Diabetes (Kencing Manis)

Secara umum, penderita diabetes dapat berpartisipasi pada semua jenis latihan yang bersifat CRIPE (continous, rhythmic, interval, progressive dan endurance). Penderita diabetes yang mengalami kegemukan juga harus menghindari latihan beban untuk meminimalkan resiko cidera atau iritasi kaki.

Latihan dilakukan 3-5 hari dalam satu minggu selama 30-60 menit tiap harinya. Pada diabetes tipe satu latihan dapat dilakukan selama 20 sampai 30 menit sedangkan pada diabetes tipe II latihan dapat dilakukan selama 40-60 menit direkomendasikan untuk meningkatkan pengeluaran energy (caloric expenditure) (Beckman et al. 2002: 2570).

Program latihan fisik penderita diabetes seperti halnya pada orang normal yakni 45 sampai dengan 85% kapasitas fungsional. Walaupun demikian pada diabetes tipe II, intensitas latiahan fisik diarahkan pada tingkat 40 sampai dengan 60% karena frekuensi dan durasi latihan yang cukup tinggi.

Intensitas Latihan untuk Penderita Diabetes

Pada kebanyakan penderita diabetes, intensitas latihan dapat didasarkan pada denyut nadi istirahat, akan tetapi pada penderita dengan neuropati otonom hal ini harus diperhatikan mengingat pada keadaan ini terjadi hambatan untuk meningkatkan denyut jantung. Pada keadaan ini rating of perceived exertion (RPE) lebih cocok untuk dipergunakan dalam menentukan intensitas latihan (Boule et al. 2001: 1218).

Pada saat memulai program latihan, sangat diperlukan untuk mengukur kadar gula darah sebelum dan sesudah latihan. Sehingga respon kadar gula darah terhadap olahraga pada penderita diabetes dapat diketahui. Penyesuaian asupan karbohidrat atau dosis insulin harus dilakukan pada saat melakukan aktivitas fisik.

Pada diabetes tipe I, resiko hipoglikemia selama atau sesudah latihan fisik lebih tinggi dibandingkan dengan penderita diabetes tipe II. Penderita dengan retinopati lanjut tidak diperkenankan untuk melaksanakan aktivitas fisik karena peningkatan tekana darah dapat mencetuskan perdarahan pada retina. Penderita retinopati yang telah menjalani terapi laser harus mendapatkan persetujuan dari dokter untuk dapat melaksanakan program latihan fisik (Beckman et al. 2002: 2570).

Itulah artikel mengenai latihan fisik penderita diabetes (kencing manis). Semoga artikel ini bisa menambah wawasan pembaca teras olahraga. Memberikan pencerahan bagi para penderita diabetes (kencing manis) untuk tetap semangat melakukan latihan fisik dan olahraga. Terima Kasih.

(Visited 17 times, 1 visits today)

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.