Memahami Batas Kemampuan Maksimal Atlet

batas maksimal kemampuan atlet

Memahami batas kemampuan maksimal atlet. Batas kemampuan maksimal atlet adalah titik tertinggi dari kemampuan atlet untuk mengerahkan semua kemampuannya, baik pada saat latihan maupun pertandingan. Seorang pelatih dan atlet harus benar-benar mengetahui dan memahami mengenai batas maksimal atlet ini.

3 Macam Batas Kemampuan Maksimal Atlet

Klasifikasi batas kemampuan maksimal atlet bisa dikategorikan menjadi 3 macam yaitu:

  1. Batas kemampuan maksimal (BKM) Psikologik
  2. Batas kemampuan maksimal (BKM) Anatomik
  3. Batas kemampuan maksimal (BKM) Fisiologik

3 macam batas kemampuan atlet tersebut harus diketahui dan benar-benar dipahami oleh seorang pelatih. Sehingga atlet diberikan program latihan yang tepat, akurat dan adequat (sesuai) untuk dapat menembus batas maksimalnya. Dengan program latihan dengan berdasar pada konsep BKM ini, maka pelatih dapat meningkatkan kemampuan fisik dasar atletnya mencapai standar kemampuan fisik yang ada di cabang olahraganya.

Kita coba bahas sekilas mengenai poin-poin BKM yang meliputi psikologik, anatomik dan fisiologik.

Batas kemampuan maksimal atletBatas Kemampuan Maksimal (BKM) Psikologik

Menurut Ikai, Yabe dan Ischii dalam Karpovich dan Sinning. BKM Psikologik berada kurang lebih 30% di depan BKM fisiologik. Dari pendapat tersebut, bisa kita sederhanakan bahwa Batas Kemampuan Maksimal Atlet dari segi psikologik menjadi pengontrol dan berpengaruh terhadap batas kemampuan maksimal fisiologik.

BKM psikologik ini, bisa saja berubah-ubah mengikuti perubahan kondisi psikologis atlet pada waktu tertentu. Berubahnya psikologis atlet akan memiliki efek pada performanya pada saat latihan maupun pertandingan.

Oleh karena itu, supaya tidak terlalu drastis dampak dari perubahan psikologis atlet, maka faktor psikologis atlet juga harus dilatihkan melalui proses latihan yang tepat dan menyentuh ke ranah psikologis atletnya.

Ranah psikologis atlet diantaranya adalah motivasi, percaya diri, konsentrasi, visualisasi dan imajinasi, sikap dan perilaku, energi positif dan negatif. Ranah yang paling menentukan prestasi atlet adalah motivasi dan percaya diri. Kedua ranah tersebut merupakan modal dasar untuk sukses dalam meraih prestasi dan memiliki peranan penting dalam menembus BKM Psikologik.

Seperti yang pernah diungkapkan oleh Loehr yaitu : “Motivation is the energy that makes everything work…and self confidence is one of the best predictors of competitive success“.

Batas Kemampuan Maksimal (BKM) Anatomik

Secara struktur anatomis, penentu BKM anatomik adalah ergosistema 1 yang merupakan alat gerak atau bisa disebut juga sebagai pelaksana gerak, terutama otot sebagai alat gerak aktif. Artinya bahwa, kemampuan fungsional maksimal otot yang sedang bekerja pada saat melakukan latihan atau pertandingan merupakan aspek utama pembatas kemampuan ergosistema 1.

Baca Juga => Mengenal Ergosistema

Seorang pelatih atau praktisi olahraga harus benar-benar memahami mengenai otot-otot apa saja yang terlibat pada saat melakukan teknik dasar di cabang olahraga  yang ditekuni. Hal tersebut, merupakan bagian dari Ergosistema 1, seperti yang sudah diungkap sebelumnya bahwa ergosistema 1 merupakan motor penggerak awal untuk bergerak melakukan teknik dasar pada cabang olahraga yang ditekuninya.

Selain masalah anatomis yang terlibat dalam ergosistema 1, pemahaman mengenai kinesiologi atau biomekanika gerak teknik dasar harus dikuasai oleh seorang pelatih. Sehingga pelatih bisa memberikan bentuk latihan yang tepat sasaran.

Batas Kemampuan Maksimal (BKM) Fisiologik

Dalam konteks fisiologik, penentu BKM adalah kapasitas anaerobik, yang merupakan BKM primer dalam melakukan latihan dan pertandingan. Sedangkan kapasitas aerobik merupakan BKM sekunder.

Kapasitas anaerobik dikatakan BKM primer, karena menjadi faktor penentu terhentinya olahraga. Artinya adalah jika kapasitas anaerobik habis digunakan, maka olahraga tidak dapat dilanjutkan. Keadaan tersebut disebut “Kehabisan Tenaga” (lelah berat = exhausted).

Pada keadaan exhausted otot tidak mampu untuk melakukan kontraksi lagi dikarenakan rangsang tidak dapat melintasi keping motorik (motor endplate) menuju ke otot. Tidak bisanya rangsang melintasi keping motorik diakibatkan menumpuknya zat kelelahan yaitu asam laktat.

Cara mengembalikan kembali BKM primer setelah terjadi kelelahan berat (exhausted) adalah dengan melakukan pemulihan. Meskipun pemulihan tersebut waktunya sedikit atau bisa juga disebut dengan pemulihan parsial. Efeknya kinerja BKM primer tidak akan maksimal melalui pemulihan parsial, tapi harus melalui pemulihan sepenuhnya (pemulahan total).

Pemulihan parsial terjadi selama melakukan latihan dan olahraga (on field) ketika seorang atlet melakukan tarikan nafas, dengan cara menurunkan irama permainan. Pemulihan total terjadi setelah melakukan latihan dan olahraga yaitu ketika seorang atlet keluar dari lapangan (out of field).

Itulah artikel mengenai memahami batas kemampuan maksimal atlet. Semoga artikel ini bisa bermanfaat bagi pembaca teras olahraga dan menambah wawasan pengetahuan di bidang olahraga. Terima Kasih.

(Visited 533 times, 1 visits today)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.