Modifikasi Media Pembelajaran Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan

Modifikasi Media Pembelajaran Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan

Artikel kali ini membahas mengenai konsep modifikasi media pembelajaran pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan. Pembahasan meliputi konsep modifikasi dan aspek analisa modifikasi. Dengan memahami konsep modifikasi media pembelajaran pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan (PJOK), maka guru olahraga atau guru penjas dapat menerapkan modifikasi pembelajaran dengan tepat pada sasaran yang ingin dicapai.

A. Konsep Modifikasi

Modifikasi merupakan salah satu upaya yang dapat dilakukan oleh para guru agar proses pembelajaran dapat dilakukan lebih mudah. Esensi modifikasi adalah menganalisa sekaligus mengembangkan materi pelajaran dengan cara meruntunkannya dalam bentuk aktivitas belajar yang potensial sehingga dapat memperlancar siswa dalam belajarnya.

Modifikasi Media Pembelajaran Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan

Cara ini dimaksudkan untuk menuntun, mengarahkan, dan membelajarkan siswa yang tadinya tidak bisa menjadi bisa, yang tadinya kurang terampil menjadi lebih terampil. Cara-cara guru memodifikasi pembelajaran akan tercermin dari aktivitas pembelajarannya yang diberikan guru mulai awal hingga akhir pelajaran. Selanjutnya guru-guru penjas juga harus mengetahui apa saja yang bisa dan harus dimodifikasi serta tahu bagaimana cara memodifikasinya. Oleh karena itu pertanyaan-pertanyaan berikut harus anda pahami dengan baik.

a. Apa yang dimodifikasi?

Beberapa aspek analisa modifikasi ini tidak terlepas dari pengetahuan guru tentang: tujuan, karakteristik materi, kondisi lingkungan , dan evaluasinya.

Disamping pengetahuan dan pemahaman yang baik tentang tujuan, karakteristik materi, kondisi lingkungan, dan evaluasi, keadaan sarana, prasarana dan media pengajaran pendidikan jasmani yang dimiliki oleh sekolah akan mewarnai kegiatan pembelajaran itu sendiri. Dalam melaksanakan tugasnya sehari-hari yang paling dirasakan oleh para guru pendidikan jasmani adalah hal-hal yang berkaitan dengan sarana serta prasarana pendidikan jasmani yang merupakan media pembelajaran pendidikan jasmani sangat diperlukan.

Minimnya sarana dan prasarana pendidikan jasmani yang dimiliki sekolah-sekolah, menuntut guru pendidikan jasmani untuk lebih kreatif dalam memberdayakan dan mengoptimalkan penggunaan sarana dan prasarana yang ada. Guru yang kreatif akan mampu menciptakan sesuatu yang baru, atau memodifikasi yang sudah ada tetapi disajikan dengan cara yang lebih menarik, sehingga anak merasa senang mengikuti pelajaran penjas yang diberikan.Banyak hal-hal sederhana yang dapat dilakukan guru penjas untuk kelancaran jalannya pendidikan jasmani.

Guru pendidikan jasmani di lapangan tahu dan sadar akan kemampuan mereka. Namun apakah mereka punya keberanian untuk melakukan perubahan atau pengembangan- pengembangan ke arah itu dengan melakukan modifikasi?

Seperti halnya halaman sekolah, taman, ruangan kosong, parit, selokan dan sebagainya yang ada di lingkungan sekolah, sebetulnya dapat direkayasa dan dimanfaatkan untuk kegiatan pembelajaran pendidikan jasmani.

Dengan melakukan modifikasi sarana maupun prasarana, tidak akan mengurangi aktivitas siswa dalam melaksanakan pelajaran pendidikan jasmani. Bahkan sebaliknya, karena siswa bisa difasilitasi untuk lebih banyak bergerak, melalui pendekatan bermain dalam suasana riang gembira. Jangan lupa bahwa kata kunci pendidikan jasmani adalah “Bermain – bergerak – ceria”

b. Mengapa dimodifikasi?

Lutan (1988) menyatakan: modifikasi dalam mata pelajaran pendidikan jasmani diperlukan dengan tujuan agar:

  1. Siswa memperoleh kepuasan dalam mengikuti pelajaran.
  2. Meningkatkan kemungkinan keberhasilan dalam berpartisipasi.
  3. Siswa dapat melakukan pola gerak secara benar.

Pendekatan modifikasi ini dimaksudkan agar materi yang ada di dalam kurikulum dapat disajikan sesuai dengan tahap-tahap perkembangan kognitif, afektif dan psikomotorik anak.

Menurut Aussie (1996), pengembangan modifikasi di Australia dilakukan dengan pertimbangan:

  1. Anak-anak belum memiliki kematangan fisik dan emosional seperti orang dewasa.
  2. Berolahraga dengan peralatan dan peraturan yang dimodifikasi akan mengurangi cedera pada anak.
  3. Olahraga yang dimodifikasi akan mampu mengembangkan keterampilan anak lebih cepat dibanding dengan peralatan standard untuk orang dewasa, dan
  4. Olahraga yang dimodifikasi menumbuhkan kegembiraan dan kesenangan pada anak-anak dalam situasi kompetitif.

Dari pendapat tersebut dapat diartikan bahwa pendekatan modifikasi dapat digunakan sebagai suatu alternatif dalam pembelajaran pendidikan jasmani, karena pendekatan ini mempertimbangkan tahap-tahap perkembangan dan karakteristik anak, sehingga anak akan mengikuti pelajaran pendidikan jasmani dengan senang dan gembira.

Dengan melakukan modifikasi, guru pendidikan jasmani akan lebih mudah menyajikan materi pelajaran yang sulit menjadi lebih mudah dan disederhanakan tanpa harus takut kehilangan makna dan apa yang akan diberikan. Anak akan lebih banyak bergerak dalam berbagai situasi dan kondisi yang dimodifikasi. Dari uraian singkat tersebut dapat disimpulkan bahwa:

  • Pertama, guru-guru penjas harus mempunyai pengetahuan tentang apa saja yang bisa dan harus dimodifikasi dalam pembelajaran penjas.
  • Kedua, guru penjas harus tahu pula alasan-alasan mengapa harus dilakukan modifikasi.

B. Aspek Analisa Modifikasi

Seperti sudah disinggung sebelumnya bahwa beberapa aspek analisa modifikasi, tidak terlepas dari pengetahuan guru tentang: tujuan, karakteristik materi, kondisi lingkungan dan evaluasinya .

1. Modifikasi Tujuan Pembelajaran

Modifikasi pembelajaran bila dikaitkan dengan tujuan pembelajaran, dimulai tujuan yang paling rendah sampai dengan tujuan yang paling tinggi. Modifikasi tujuan pembelajaran ini dapat dilakukan dengan cara membagi tujuan materi ke dalam tiga komponen, yakni: tujuan perluasan, tujuan penghalusan dan tujuan penerapan.

a. Tujuan perluasan.

Maksudnya adalah tujuan pembelajaran yang lebih menekankan pada perolehan pengetahuan dan kemampuan melakukan bentuk atau wujud keterampilan yang dipelajarinya tanpa memperhatikan aspek efisiensi atau efektifitasnya.

Misalnya : siswa dapat mengetahui dan melakukan gerakan melompat dalam lompat jauh. Tujuannya lebih banyak menekankan agar siswa mengetahui esensi lompat melalui peragaan.

Dalam kasus ini peragaan tidak mempermasalahkan apakah lompat itu sudah dilakukan secara efektif, efisien atau belum, yang penting adalah siswa dapat melakukan peragaan berbagai bentuk gerakan melompat dengan ataupun tanpa alat bantu yang pada akhirnya siswa mengetahui esensi wujud lompat dalam cabang olahraga atletik.

b. Tujuan penghalusan.

Maksudnya adalah tujuan pembelajaran yang lebih menekankan pada perolehan pengetahuan dan kemampuan melakukan gerak secara efisien .Misalnya: siswa mengetahui dan melakukan gerak melompat dengan mentransfer kecepatan awalan ke dalam tolakannya.

Pada level ini wujud lompatannya sudah menekankan pada esensi efisiensi gerak melompat. ( misalnya: menggunakan kaki terkuat saat melompat, lutut agak ditekuk saat menolak dan meluruskan lutut pada saat lepas dari papan tolak, dsb) melalui peragaan.

c. Tujuan penerapan.

Maksudnya tujuan pembelajaran yang lebih menekankan pada perolehan pengetahuan dan kemampuan tentang efektif tidaknya gerakan yang dilakukan melalui criteria tertentu sesuai dengan tingkat kemampuan siswa.

Misalnya, siswa mengetahui efektifitas gerak melompat yang dipelajarinya berdasarkan ketepatan menolak pada papan tolak. Siswa dapat mengetahui dan menemukan pada jarak awalan berapa meter dengan seberapa cepat sehingga ia dapat melakukan tolakan secara tepat dan konsisten pada papan tolak.

Tujuan pembelajaran nomor lompat pada contoh tersebut antara lain:

  • Siswa mengetahui dan dapat melakukan berbagai bentuk lompat
  • Siswa mengetahui dan dapat melakukan konsep gerak dasar lompat yang efisien
  • Siswa mengetahui jarak awalan standar untuk melakukan lompatan
  • Siswa mengenal gaya yang digunakan pada saat melayang
  • Siswa mengetahui standar kemampuan yang sudah dimilikinya dibandingkan dengan standar yang seharusnya ia miliki.

Aspek lain yang perlu diperhatikan guru adalah, siswa tidak harus terburu-buru mendapatkan aktivitas belajar yang jauh di atas kemampuannya, sehingga menyebabkan siswa jadi jenuh atau frustasi. Sebaliknya guru juga tidak selalu memberikan aktivitas belajar yang terlalu mudah bagi siswa terampil, akan tetapi selalu memberikan aktivitas sesuai dengan perkembangan siswa.

2. Modifikasi Materi Pembelajaran

Modifikasi materi pembelajaran ini dapat di klasifikasikan ke dalam beberapa komponen dasar berikut ini;

a. Komponen keterampilan;

Materi pembelajaran penjas dalam kurikulum pada dasarnya merupakan keterampilan-keterampilan yang akan dipelajari siswa. Guru dapat memodifikasi keterampilan tersebut dengan cara mengurangi atau menambah tingkat kesulitan dengan cara menganalisa dan membagi keterampilan keseluruhan ke dalam komponen-komponen, lalu melatihnya perkomponen.

Berlatih perbagian ini akan kurang bermakna apabila siswa belum tahu ujud gerak secara keseluruhan. Oleh karena itu berikan gambaran secara keseluruhan terlebih dahulu dengan demonstrasi guru atau bimbinglah siswa melakukan gerak keseluruhan.

b. Klasifikasi materi;

Materi pembelajaran dalam bentuk keterampilan yang akan dipelajari siswa dapat disederhanakan berdasarkan klasifikasi keterampilannya dan memodifikasinya dengan jalan menambah atau mengurangi tingkat kesulitannya.

Klasifikasi keterampilan tersebut yaitu:

  • Close skill (keterampilan tertutup)
  • Close skill pada lingkungan yang berbeda
  • Open skill (keterampilan terbuka), dan
  • Keterampilan permainan

Keterampilan tertutup merupakan tingkat keterampilan yang paling sederhana, sementara keterampilan permainan merupakan tingkatan yang paling tinggi, termasuk di dalamnya permainan berbagai kecabangan olahraga. Dalam tingkatan ini pemain selain dituntut menguasai berbagai skill yang diperlukan untuk melakukan permainan, mengkombinasikan skill yang berbeda, juga harus menguasai berbagai strategi, baik ofensif maupun difensif.

c. Kondisi penampilan;

Guru dapat memodifikasi kondisi penampilan dengan cara mengurangi atau menambah tingkat kompleksitas dan kesulitannya. Misalnya: tinggi rendahnya kecepatan penampilan, tinggi rendahnya kekuatan penampilan, melakukan di tempat atau bergerak, maju ke depan atau ke segala arah, dikurangi atau ditambah peraturannya. Contohnya: melempar, menangkap, atau memukul dan permainan.

d. Jumlah skill;

Guru dapat memodifikasi pembelajaran dengan jalan menambah atau mengurangi jumlah keterampilan yang dilakukan siswa dengan cara mengkombinasikan gerakan Misal: dalam permainan basket siswa hanya diperbolehkan : lari, lempar, tangkap, dan menembak (shooting) berupa:

  1. Lari ke tempat kosong tan bertabrakan
  2. Melempar bola pada sasaran tanpa direbut lawan
  3. Menangkap bola pada daerah yang aman
  4. Menembak ke ring basket.

e. Perluasan jumlah perbedaan respon;

Guru dapat menambah tingkat kompleksitas dan kesulitan tugas ajar dengan cara menambah jumlah perbedaan respon terhadap konsep yang sama. Cara seperti ini dimaksudkan untuk mendorong terjadinya “ transfer of learning”. Perluasan aktivitas belajarnya berkisar antara aktivitas yang bertujuan untuk membantu siswa mendefinisikan konsep sampai pada macam-macam aktivitas yang memiliki konsep dasar sama. Misalnya konsep panjang awalan dan kekuatan .

Pada awalnya bentuk aktivitas berupa pembelajaran lompat jauh tanpa awalan, awalan satu langkah, awalan tiga langkah, dst. Setelah siswa memiliki konsep bahwa panjang awalan mempengaruhi kekuatan, maka konsep ini bisa ia terapkan misal pada : lompat jangkit, lompat tinggi, melempar, menendang bola dan lain sebagainya.

3. Modifikasi Lingkungan Pembelajaran

Modifikasi pembelajaran dapat dikaitkan dengan kondisi lingkungan pembelajaran. Modifikasi lingkungan pembelajaran ini dapat diklasifikasikan ke dalam beberapa klasifikasi seperti diuraikan di bawah ini.

a. Peralatan;

Peralatan (apparatus), ialah sesuatu yang dapat digunakan dan dimanfaatkan oleh siswa untuk melakukan kegiatan/aktivitas di atasnya, di bawahnya,di dalam/di antaranya, misalnya : bangku Swedia, gawang, start block, mistar, peralatan lompat tinggi, bola, alat pemukul dsb. Peralatan yang dimiliki sekolah-sekolah, biasanya kurang memadai dalam arti kata kuantitas maupun kualitasnya. Peralatan yang ada dan sangat sedikit jumlahnya itu biasanya peralatan standar untuk orang dewasa.

Guru dapat menambah/mengurangi tingkat kompleksitas dan kesulitan tugas ajar dengan cara memodifikasi peralatan yang digunakan untuk aktivitas pendidikan jasmani. Misalnya memodifikasi berat ringannya, besar kecilnya, panjang pendeknya , maupun menggantinya dengan peralatan lain sehingga dapat digunakan untuk berbagai bentuk kegiatan pendidikan jasmani.

b. Penataan ruang gerak;

Guru dapat mengurangi atau menambah tingkat kompleksitas dan kesulitan tugas ajar dengan cara menata ruang gerak siswa dalam kegiatannya. Misalnya : melakukan dribbling, pas bawah atau lempar tangkap di tempat, atau bermain di ruang kecil atau besar.

c. Jumlah siswa yang terlibat;

Guru dapat mengurangi atau menambah tingkat kompleksitas dan kesulitan tugas ajar dengan cara mengurangi atau menambah jumlah siswa yang terlibat dalam melakukan tugas ajar tersebut. Misalnya: belajar pas bawah sendiri, berpasangan, bertiga, berempat dst.

Berkaitan dengan modifikasi lingkungan pembelajaran tersebut komponen-komponen penting yang dapat dimodifikasi. Menurut Aussie (1996), meliputi:

  1. Ukuran, berat atau bentuk peralatan yang digunakan
  2. Lapangan permainan
  3. Waktu bermain atau lamanya permainan
  4. Peraturan permainan, dan
  5. Jumlah pemain

Sedangkan secara operasional, Ateng (1992), berpendapat modifikasi permainan sebagai berikut :

  1. Kurangi jumlah pemain dalam setiap regu
  2. Ukuran lapangan diperkecil
  3. Waktu bermain diperpendek
  4. Sesuaikan tingkat kesulitan dengan karakteristik anak
  5. Sederhanakan alat yang digunakan, dan
  6. Ubahlah peraturan menjadi sederhana, sesuai dengan kebutuhan agar permainan dapat berjalan dengan lancar.

Kondisi lingkungan pembelajaran yang memenuhi syarat untuk cabang olahraga tertentu, belum tentu memenuhi syarat untuk digunakan oleh siswa SDLB. Artinya memodifikasi lingkungan yang ada dan menciptakan baru, merupakan salah satu alternatif yang dapat dikembangkan oleh guru sebagai upaya untuk menyesuaikan dengan kerakteristik dan perkembangan siswa.

4. Modifikasi Evaluasi Pembelajaran

Evaluasi materi maksudnya adalah penyusunan aktivitas belajar yang terfokus pada evaluasi skill yang sudah dipelajari siswa pada berbagai situasi. Aktivitas evaluasi dapat merubah fokus perhatian siswa dari bagaimana seharusnya suatu skill dilakukan menjadi bagaimana skill itu digunakan atau apa tujuan skill itu.

Oleh karena itu, guru harus pandai-pandai menentukan modifikasi evaluasi yang sesuai dengan keperluannya. Evaluasi yang lebih berorientasi pada hasil dapat meningkatkan penampilan siswa jika siswa sudah memiliki skill dan percaya diri yang memadai. Namun sebaliknya dapat merusak skill siswa yang belum meraih kemampuan atau percaya diri yang memadai. Untuk itu, bentuk modifikasi evaluasi harus betul-betul sejalan dengan tujuan dan aktivitas belajarnya.

Itulah artikel mengenai modifikasi media pembelajaran pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan. Dengan memiliki pemahaman mengenai modifikasi media pembelajaran pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan, maka guru akan dengan mudah menentukan mana yang harus dimodifikasi dan mana yang tidak. Efeknya akan berdampak pada learning outcome siswa yang sedang belajar.

Sekian Artikel modifikasi media pembelajaran pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan. Semoga bisa bermanfaat bagi para pembaca teras olahraga. Jangan lupa untuk melihat artikel menarik lainnya di website ini. Terima Kasih.

(Visited 78 times, 1 visits today)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.