Program Latihan Fisik Penderita Gangguan Paru-Paru

Program Latihan Fisik Penderita Gangguan Paru-Paru. Gangguan paru yang sering dijumpai adalah penyakit obstruksi paru kronis (COPD/Chronic Obstructive Pulmonary Disease) yang meliputi emfisema, brokhitis kronis dan asma (O’Donnell et al. 2001: 770). Fungsi abnormal paru akan mempengaruhi ventilasi serta pertukaran gas yang menimbulkan dyspnea (gangguan nafas) selama latihan fisik yang mengakibatkan keterbatasan kapasitas fungsional paru. Pada keadaan ini sering dipergunakan bronchodilator serta glukokortikoid untuk memperlebar jalan napas, ekspektoran untuk meningkatkan pembersihan lendir pada  saluran  pernapasan), digitalis  dan  diuretic untuk menurunkan beban kerja jantung dan paru-paru (hipertensi paru-paru). Pada keadaan berat, tambahan oksigen diperlukan untuk memelihara tekanan oksigen serta mengatasi hipertensi paru- paru (O’Donnell et al. 2001: 770).

Program Latihan Fisik Penderita Gangguan Paru-ParuProgram Latihan Fisik Penderita Gangguan Paru-Paru

Program latihan fisik harus sesui dengan kebutuhan masing-masing individu sesuai dengan tingkat gangguan pernapasan yang telah dinilai pada exercise testing. Bersepeda, berjalan dan berenang merupakan jenis latihan yang tepat sedangkan latihan beban yang ditujukan pada tubuh bagian atas tidak disarankan mengingat pada latihan tersebut, rasio kebutuhan oksigen dan keluaran tenaga relatif besar.

Jenis latihan yang dipilih diharapkan dapat secara langsung meningkatkan kapasitas fisik yang menunjang aktivitas sehari-hari. Intensitas latihan juga disesuaian dengan kapasitas fungsional penderita. Mengingat sesorang yang mengalami gangguan pernafasan pada aktivitas fisik berespons terhadap aktivitas sama dengan penderita gangguan  kardiovaskular,  metode  denyut  jantung  dapat  diperguankan  untuk  menentukan intensitas aktivitas fisik (O’Donnell et al. 2001: 770).

Penderita dengan forced vital capacity (FVC) dan forced expiratory volume at  one second (FEV1) anatara 60% sampai dengan 80% dari nilai prediksi cenderung akan mengalami dyspnea pada saat aktivitas fisik berat. Pada keadaan ini intensitas latihan ditetapkan  pada keadaan yang memerlukan kecepatan ventilasi 75% dari ventilasi maksimal. Pada penderita dengan FVC dan FEV1 <60%, intensitas latihan fisik disesuaikan dengan berdasarkan tingkat dyspnea. Pada keadaan dyspnea berat, penderita mungkin memerlukan tambahan oksigen selama latihan fisik (O’Donnell et al. 2001: 770).

Adaptasi Latihan Fisik Penderita Gangguan Paru-Paru

Pada beberapa penderita, penyesuaian durasi dan frekuensi latihan fisik mungkin diperlukan. Apabila durasi latihan 20 sampai 30 menit dirasakan terlalu berat bagi penderita. Maka durasi dapat disesuaikan menjadi dua kali 10 menit atau empat kali 5 menit. Latihan yang bersifat interval mungkin diperlukan sampai adaptasi dapat dilakukan.

Beberapa penderita COPD tidak mengalami peningkatan kapasitas paru yang bermakna pada program latihan fisik. Walaupun demikian, kebanyakan akan mengalami penurunan gejala gejala COPD, menurunkan tingkat kecemasan terhadap latihan fisik dan menurunkan tingkat ketergantungan kepada obat.

Hal yang penting untuk untuk dicapai adalah peningkatan toleransi terhadap latihan fisik dikarenakan adaptasi peredaran darah tepi. Evaluasi secara periodik dapat dilakukan dengan tes berjalan 12 menit yang juga penting untuk tujuan meningkatkan motivasi (Pedersen et al. 2006: 63).

Itulah artikel mengenai program latihan fisik penderita gangguan paru-paru. Semoga artikel ini bisa bermanfaat bagi para pembaca teras olahraga. Terima Kasih.

(Visited 13 times, 1 visits today)

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.