Program Latihan Fisik Penderita Hipertensi

Program Latihan Fisik Penderita Hipertensi. Penderita tekanan darah tinggi (hipertensi), perlu pertimbangan khusus sebelum latihan fisik. Tekanan darah tinggi dikategorikan sebagai hipertensi primer (90% kasus) apabila penyebabnya tidak diketahui atau hipertensi sekunder (10% kasus) apabila penyebabnya diketahui (misalkan akibat ketidakseimbangan hormon atau penyakit kardiovaskular).

Tingkat hipertensi digolongkan menjadi hipertensi ringan apabila tekanan darah berada di kisaran 140/90, hipertensi sedang bila tekanan darah sekitar 150/95 dan dikatakan, berat bila tekanan darah 160/100 dan digolongkan hipertensi berat bila tekanan darah sama ata diatas 170/110.  Seseorang dengan kenaikan tekanan darah yang kronis memiliki resiko yang lebih tinggi terhada stroke, penyakit jantung koroner serta hipertrofi ventrikel kiri (Pescatello et al. 2004: 533).

Tekanan darah ditentukan oleh keluaran jantung (cardiac output) dan total tahanan pembuluh darah tepi (total pheriveral resistance) (Rees et al. 2004). Kenaikan salah satu atau kedua komponen tersebut akan meningkatkan tekanan darah. Manajemen awal hipertensi ringan dan sedang meliputi penurunan berat badan, latihan fisik dan diet pengurangan bahan yang mengandung sodium. Manajemen untuk hipertensi berat dan sangat berat biasanya memerlukan obat anti hipertensi yang dapat mengurangi cardiac output ataupun total peripheral resistance (Pescatello et al. 2004: 533).

program latihan fisik penderita hipertensiJenis Program Latihan Fisik Penderita Hipertensi

Pada hipertensi ringan sampai dengan sedang, latihan yang bersifat dinamis dapat meningkatkan cardiac output serta tekanan darah sistolik dan diastolic dibandingkan dengan pada orang dengan tekanan darah normal. Pada hipertensi berat dapat menimbulkan penurunan cardiac output dikarenakan penurunan volume sekuncup jantung (stroke volume), walaupun demikian tekanan darah sistolik dan diastolik meningkat dikarenakan peningkatan tekanan perifer. Latihan yang bersifat isometris dapat meningkatkan tekanan darah sistolik dan diastolik pada penderita hipertensi diabndingkan dengan orang dengan tekanan darah normal (Rees et al. 2004).

Metode exercise testing standard dapat diaplikasikan pada penderita hipertensi. Walaupun demikian, mengingat angka kejadian hipertrofi ventrikel kiri sangat besar, elektrokardiogram pada saat aktivitas mungkin sukar diinterpretasikan (Rees et al. 2004).

Untuk mendeteksi adanya penyakit jantung koroner perlu dilakukan pengukura tambahan seperti menggunakan pengujian thallium. Frekuensi latihan fisik adalah 3 sampai 5 hari dalam seminggu. Waktu latihan dapat ditingkatkan dari 30 sampai 60 menit dengan intensitas 40 sampai dengan 65%.

Latihan dengan intensitas tinggi perlu dihindari. Latihan isometris tidak selalu dikontraindikasi pada penderita hipertensi akan tetapi latihan fisik intensitas tinggi dengan komponen isometris yang dominan perlu dihindari. Pada pederita hipertensi latihan beban dilakukan dengan beban yang ringan dan repetisi yang tinggi (Pescatello et al. 2004: 533).

Program latihan fisik penderita hipertensi perlu disesuaikan dengan obat antihipertensi yang dikonsumsi. Obat yang dapat menurunkan tahanan perifer dengan menginduksi vasodilatasi dapat menimbulkan hipotensi setelah latihan (Pescatello et al. 2004: 533). Pada keadaan ini diperlukan pendinginan yang cukup untuk membantu mendistribusikan kembali aliran darah.

Obat-obatan Penderita Hipertensi

Obat yang mengurangi cardiac output dengan jalan menurunkan frekuensi denyut jantung membutuhkan kiteria intensitas latihan fisik yang bukan didasarkan pada frekuensi denyut jantung. Penderita hipertensi yang mempergunakan diuretik dapat mengakibatkan dysrhtmia jantung selama latihan sehingga perlu dilakukan monitor irama jantung yang lebih intensif.

Beberapa obat lain dapat sekaligus mempengaruhi denyut jantung dan total peripheral resistance. Oleh karenanya program latihan harus senantiasa disesuaikan dengan keadaan individu. Secara keseluruhan program latihan didasarkan pada respon spesifik denyut jantung dan tekanan darah penderita terhadap latihan fisik. Perubahan jenis dan dosis obat antihipertensi juga membutuhkan penyesuaian progam latihan (Pescatello et al. 2004: 533).

Itulah artikel mengenai program latihan fisik penderita hipertensi. Semoga artikel ini bisa bermanfaat dan menambah wawasan bagi para pembaca teras olahraga. Terima Kasih.

(Visited 108 times, 1 visits today)
Program Latihan Fisik Penderita Hipertensi | Kang Ikal | 4.5